Year: 2023

ho’oponopono..

Entah kenapa belakangan ini gw jadi tambah kepo soal cara kerja alam semesta, tentang jiwa, meditasi, dan yang nyerempet2 spiritual gitu deh.. Berasa ajaaaiiibb banget alam semesta ini.. Baik itu bangun strukturnya, maupun cara kerjanya.. Menyepi dan cuti ngeblog beberapa minggu ini cukup bikin gw tambah menyadari sejumlah hal.. Diantaranya ya, berpikir atau ber-emosi negatif itu beneran bisa berbahaya.. Tanpa disadari, mental pun bisa tergerus.. Terlebih pemuda generasi sekarang, banyak yang emang effort dan work ethic-nya kurang oke, tapi impiannya malah besar (seperti sukses di usia semuda mungkin..) Bisa kena mental dah tuh.. Pikiran negatif juga bisa mempengaruhi cara pandang kita terhadap diri dan segala sesuatu.. Ujung2nya orang jadi sulit bahagia dengan kondisi sekarangnya.. Pernah dengar Ho’ Oponopono ??.. Sebuah metode terapi dari Hawaii kuno.. Dalam psikoterapi, ini merupakan terapi untuk menyingkirkan emosi dan pikiran negatif.. Dipopulerkan oleh Dr. Ihaleaka Hew Len sekitar tahun 2000an.. Ia bekerja di sebuah rumah sakit di Hawaii, tempat perawatan para pelaku kejahatan plus bonus: terkena gangguan mental !!.. Tempatnya dianggap berbahaya.. Banyak karyawan sering bolos, ataupun psikolog yang behenti …

tanya tepat..

Belum lama ini di kelas, ada beberapa mahasiswa yang minta dibacain tarot.. Emang nih kartu tarot udah lama gw pake sebagai media untuk bisa lebih deket ke mahasiswa.. Biasanya kalo gw nawarin, yang pengen nyoba ditarot tuh kebanyakan cewek2, tapi kemarin itu malah hampir semuanya cowok.. Gwakakak.. Feeling gw di awal: ini tampang2nya kayak para JoNes alias Jomblo Ngenes.. Dan bener, sebagian besar nanya masalah hubungan romansa.. Ternyata masalah mereka memang macem2, ada yang urusan percintaan, gagal move on, sampe masalah konflik keluarga.. Yaah paling nggak gw lega karena nggak ada yang nanya nanti pas pilpres 2024 yang menang siapa.. (^0^)/.. Kejadian ‘nanti’ dipengaruhi oleh jutaan variabel.. Masa depan itu ibarat sepiring penuh tempe: nggak ada yang tahu.. Wkwkwk.. Ada juga yang ‘over thinking’ plus.. Sampe2 nih mahasiswi nanya: “Mas, kenapa yak saya selalu sial, apes terus di banyak aspek kehidupan?”.. Buset serem amat.. Yang model begini langsung gw ‘head-shot’ sebelum dia narik kartu.. “Kamu tuh ya, nggak boleh mikir begitu.. Itu prasangka buruk sama Alloh, jatohnya bisa dosa.. Kalo mikir negatif mulu, ntar yang …

bocah ajaib..

Belum lama ini sempat liat sebuah postingan bergambar dengan caption: “Sarjana di usia 13 tahun, anak jenius ini jadi pengangguran..”. Ini terjadi di Tiongkok.. Sempat mendapat perhatian publik karena meskipun di usia ‘dini’, dia menunjukkan kemampuan yang luar biasa dalam beberapa mata pelajaran.. Salah satunya matematika, diberitakan dia berhasil meraih medali emas pada event kompetisi matematika internasional.. Lanjut kuliah terus sampai doktor, menjadi doktoral termuda di Tiongkok, lantas sempat menjadi guru paruh waktu.. Sempat terlibat beberapa projek, dan mencoba membuat projekan sendiri, namun banyak mengalami kegagalan, kemudian menyerah.. Di belahan dunia yang lain, ada anak2 ajaib yang bisa membaca di usia 2 tahun, bisa memainkan lagunya Bach di usia 4 tahun, belajar kalkulus di usia 6 tahun, ataupun mampu berbicara dalam tujuh bahasa dengan lancar di usia 8 tahun.. Waw.. Hebat banget kan ya ??.. Seharusnya kita bisa mengharapkan mereka2 ini untuk mengubah dunia.. Atau menjadi the next Batch, next Einstein, ataupun Leonardo Da Vinci.. Ternyata eh ternyata, kenyataannya berkata lain.. Anak2 jenius ini tidak luput dari penelitian.. Adam Grant (2016), dalam “Originals” menyatakan: Anak2 …

bingung kebenaran..

Kalo ngasi tugas2 desain ke mahasiswa, gw suka nggak ngasi contoh hasil jadinya.. Karena desain grafis itu ada faktor subjektivitasnya.. Jadi biarin aja mereka ‘bingung’.. Toh dasar2 teori dan implementasinya sudah disampaikan.. Tinggal gimana si mahasiswa mau mencari referensi dan berpikir mandiri.. Dalam konteks skill dan knowledge, hubungan guru dan murid seringkali menjadi hubungan hirarki yang ‘semu’.. Karena pada dasarnya nggak ada yang bisa mengajari orang lain, yang ada hanya men-share informasi kepada orang lain.. Kalo dipikir lebih dalam, memang yang gw lakukan di depan kelas itu ‘sekedar’ membagikan informasi berupa teori2 desain.. Yang kemudian harus baca2 atau cari referensi lagi ya si mahasiswa, yang harus melakukan latihan2 dan mengerjakan tugas ya si mahasiswa juga.. So, yang sangat menentukan adalah diri si murid sendiri.. Mau terus ‘mendevelop’ informasi2 tersebut atau nggak.. Gw pikir, ada baiknya membiarkan mahasiswa berada dalam fase ‘kebingungan’.. Karena di fase itulah umumnya seseorang lebih terpicu untuk mencari tahu dan mengobservasi lebih jauh.. Dan terbuka kemungkinan referensi yang akan dia temukan bisa saja lebih bagus daripada referensi gw sebagai pengajar.. Sikap berpikir …

analogi hidup..

Sejauh ini, ada beberapa analogi kehidupan yang gw tau.. Yang pertama: hidup adalah perlombaan atau pertandingan.. Hidup ibarat track balap lari atau arena tanding.. Jadinya, hidup penuh dengan persaingan, adu cepat, adu sukses, atau adu-adu yang lain.. Yang kedua: hidup adalah perjalanan atau sekedar mampir lewat saja.. Ini sering ditemukan dalam perspektif agama.. Ya namanya perjalanan, bisa santai, bisa menikmati apapun dalam perjalanan.. Tapi ya gitu, ‘sense of competitiveness’ jadi kurang terbangun.. Akibatnya, jadi nggak ada suatu impian / goal yang harus dikejar.. Hidup seadanya pun tak apa.. Yang ketiga gw dapet dari konsep psikologi Adler: hidup adalah tarian kontribusi.. Hidup ya ‘menari’ terus saja, masing2 orang cukup memperhatikan panggungnya masing2, tidak perlu pusing memikirkan panggung orang lain.. Cukup menari dengan bahagia menebar kontribusi / manfaat.. Dan karena tarian, pastilah bergerak (tidak ada tarian yang diam), nanti tauk2 akan sampai di tempat2 yang nggak terduga.. Pilih yang mana ?? Atau bisa juga di-‘mix and match’.. Kalau seorang atlit, pilihan pertama jelas lebih cocok.. Karena kompetisi memang sudah menjadi inti dari profesinya, dan menjadi juara adalah …