All posts filed under: favourite

skeptis sedikit

Ternyata otak kita cenderung lebih mudah untuk langsung percaya “kata2” orang lain ketimbang mempertanyakannya dulu.. Gimana nggak, karena setelah lahir, ada masa2 (bertahun2 malah) dimana seseorang mau nggak mau mesti percaya katanya orang tanpa bisa cek and ricek.. Hehe.. Ya iya lah.. Mosok abis lahir langsung bisa baca buku sains ?? Ditambah lagi secara neurologis, ada kecenderungan juga dari otak untuk hanya menerima keyakinan yang sepaham, dan menolak keyakinan yang dipegang orang lain, bahkan bisa mengklaim kalo yang berbeda keyakinan adalah sesat.. Newberg & Waldman dalam bukunya “Born to Believe” (2013), menyebutkan, dari satu sisi, otak orang dewasa itu seperti anak2: gampang percaya dengan kata2 orang lain, terutama kalo hal tersebut menarik bagi fantasi dan hasrat terpendamnya.. Di Indonesia yang indeks minat bacanya rendah, yang kayak gini berasa banget.. Banyak sekali yang bersandar pada “katanya” atau opini si A, atau si B, ketimbang memilih cek fakta  dengan baca2 sendiri, atau mencoba menelaah terlebih dahulu bukti2 yang jelas.. Maka, berita dari website abal2 pun tidak jarang dipercaya begitu saja dan di share rame2.. Yang jadi masalah …

memahat diri..

Pernah suatu ketika, seseorang bertanya pada Michaelangelo, kok bisa sih bikin patung kayu mahakarya yang bagus sekali, gimana caranya ??.. Sang maestro pun menjawab: “Patung itu sudah ada di dalamnya koq, saya hanya membantu membuang bagian2 yang tidak perlu dari bongkahan kayu yang digunakan..” *Doeng..!!*.. Mantep banget nih jawaban dari si maestro.. Maknanya bisa dalem pulak.. Bisa dikaitkan dengan ilmu untuk mencapai keberhasilan.. Manusia pada awalnya ibarat sebuah bongkahan kayu yang belum jadi.. Yang entah kapan nantinya, bisa akan tetap menjadi sebuah bongkahan kayu, atau akan menjadi sebuah karya ukiran / patung / bentuk lain yang lebih bernilai harganya.. Loh, koq enak aja main ngomong manusia itu semua sama kayak bongkahan kayu ??.. Ada beberapa pernyataan orang2 besar yang gw tau memang menganggap pada hakikatnya, semua manusia itu sama.. Seperti Confucius misalnya, ia pernah menyatakan, semua manusia itu sama, yang membedakan antar mereka adalah kebiasaannya.. Paul G. Stolt sebagai salah satu penggagas ide Adversity Quotient (AQ) juga beranggapan pada dasarnya semua manusia sama, karena kita semua kurang lebihnya menghadapi masalah2 yang sama, dan yang membedakan …

Imam Syafi’i & Makoto Sichida..

Karena gw jadi dosen pembimbing mahasiswa yang tugas akhirnya bikin komik tentang imam Syafi’, gw jadi baca2 lagi deh kisah2 beliau.. Benar2 manusia yang hebat.. Beliau benar2 pencari ilmu sejati.. Plus nggak pernah memaksakan “paham”nya atau pendapatnya harus diterima oleh orang lain.. Mau sependapat oke, nggak ya oke juga.. Benar2 jauh dari sifat merasa paling benar.. Yang tambah bikin gw takjub adalah beraninya beliau berbeda pemikiran dengan gurunya.. Nggak taqlid buta sama sekali.. Malahan beliau berani bikin mahzab sendiri.. Seakan menyampaikan pesan: “kemerdekaan berpikir” bukanlah sesuatu yang harus ditakuti dan dikekang erat2 oleh pola2 pikir lama.. Karena beliau beranggapan semua manusia (termasuk guru2nya) adalah manusia biasa.. Dan yang namanya manusia, pasti bisa salah.. Plus lagi, setiap zaman punya konteksnya sendiri2.. Tema “pemikiran” saat itu mungkin belum bisa seramai sekarang.. Dulu IPTEK masih sangat terbatas.. Medsos belum ada.. Gw membayangkan, kira2 “pemikiran” seperti apa yang akan dilontarkan Imam Syafi’i kalau beliau hidup di era media baru dan teknologi informasi secanggih sekarang.. Gw mendambakan kehadiran orang2 yang berani membongkar pemikiran2 lama, yang berani memadukan “kekinian” dengan esensi …

your life, your orbit..

Kalo diperhatikan lebih dalam di alam semesta ini, banyak hal yang sifatnya “siklus”, perputaran, atau alur pengulangan, yang menandakan adanya “kehidupan” di situ.. Contoh, aliran darah dari dan menuju jantung.. bukankah itu alur perputaran ?? Bukannya dengan adanya hal tersebut manusia dan hewan bisa hidup..?? Kalo tumbuhan gimana ??.. Kayaknya sama juga deh.. setiap hari mereka memanfaatkan sinar matahari untuk berfotosintetis.. Itu juga bisa dibilang pengulangan rutin kan.. Fenomena alam juga seperti itu.. Liat gimana siklus rantai makanan, siklus turunnya hujan, dan berputarnya planet2 mengelilingi matahari.. Bahkan dalam agama Islam pun sama, minimal sholat lima waktu tiap hari, ini juga kan bisa dibilang siklus pengulangan harian.. Dan yang keliatan banget, ya Thawaf mengelilingi Ka’bah, itu jelas banget “nyata” gimana berputar pada “orbit” seakan adalah sebuah pesan dari Alloh yang mesti dimaknakan oleh manusia.. Siklus / perputaran adalah pengulangan, dan pengulangan adalah rutinitas.. Bisa dimaknakan, untuk membangun sebuah kehidupan yang “sehat” diperlukan sebuah rutinitas yang positif, yang tidak keluar dari jalur / orbitnya, dan dijalankan secara konsisten.. Lihatlah gimana kita “hidup”.. Hampir sebagian besar dari kita …

Islam & Jeet Kun Do..

“Islam datang bukan untuk merubah budaya leluhur kita jadi budaya Arab, bukan aku jadi “ana”, kamu jadi “antum”, saudara jadi “akhi”, tetapi kita harus pertahankan milik kita, kita serap ajarannya, bukan budaya arabnya..” – Gus Dur – Udah lama banget quotes dari Gus Dur ini ngalor ngidur di kepala guwa.. Karena, sejak dulu gw kuliah sarjana, mereka2 yang saling memanggil dengan ana, antum dan akhi itu banyak banget berseliweran di depan gw.. Dan dulu gw ngeliat itu sebagai hal yang cukup oke.. Tapi sekarang seiring bertambahnya pendidikan dan bacaan, lagi2 gw berubah pikiran.. Gw kembali “menggeser” apa yang dulu gw anggap oke itu.. Sekarang gw ngeliatnya kok berbuat seperti itu malah berkesan jadi ‘menyerap’ budaya arab dan menenggelamkan budaya sendiri.. Karena makin ke sini gw paham kalo Islam bukanlah arab.. Kalo Rasul diturunkan di Tiongkok, bisa jadi mereka2 yang menganggap Islam adalah budaya arab saat ini akan memakai baju tradisional China, dan saling memanggil dengan ngkoh & enci.. Persis kayak di mangga dua, hehe.. Karena Islam adalah agama, bukan budaya.. Dari banyak referensi, sederhananya budaya …