Beberapa minggu lalu sholat Jum’at, ceramahnya tentang takwa.. Lagi2 dari penceramahnya, takwa diartikan: Melakukan segala perintah-Nya dan menjauh dari larangan-Nya.. Kalo dipikir2, ini terlalu sempit dan kesannya “nggak mempan” untuk melawan kebatilan.. Perintah-Nya dianggap hanya jalanin ritual.. Culas dan korup bisa tetep jalan..
Gw lebih seneng arti takwa dari terjemahan bahasa Inggris, yakni: kesalehan, kesadaran (consciousness), dan takut (bergantung pada konteks ayatnya)..
Ada sufi yang mengartikan kesalehan adalah perilaku atau aktivitas yang menambah keindahan atau mempercantik alam semesta.. Dan soal kesadaran, ini yang cukup penting.. Segala sesuatu yang dilakukan dengan kesadaran, “rasa”nya akan berbeda.. Buah dari ke-takwa-an adalah kebaikan universal.. Akan bisa diterima di manapun, dan di zaman apapun..
Mangkanya ajaran para Nabi2 terdahulu juga sama, selalu mengajarkan takwa.. Nggak cuma Islam melalui Nabi Muhammad.. Sikap taqwa ada juga pada ajaran2: Nabi Adam (QS.5:27), Nabi Nuh (QS.23:23), Nabi Ibrahim (QS.29:16), Nabi Hud (QS.26:124), Nabi Saleh (QS.26:142 ), Nabi Luth (QS.26:161), Nabi Ilyas (QS.37:123,124), dan juga Nabi Isa (QS.5:112)..
Bahkan kalo diteliti lebih dalam, nggak cuman agama ‘langit’ yang tujuannya mengarah pada takwa / kesadaran.. Namun agama Ardhi (bumi) yang berkembang dari budaya ataupun pemikiran manusia juga ujungnya adalah peningkatan kesadaran.. Seperti Hindu, Budha, atau Konghucu, selalu ada metode peningkatan kesadaran..
Semua penganut agama tertentu pasti akan menganggap agamanya paling benar.. Tapi banyak yang nggak sadar bahwa perbedaan tersebut bukanlah sebuah ‘bahan’ untuk dibentur2kan.. Selain keberagaman adalah keniscayaan karya Tuhan, agama bukanlah tujuan, tapi “jalan” atau cara.. Tujuannya adalah “sesuatu” yang di tiap agama bisa berbeda, namun pasti diniliai memiliki kebaikan, kebesaran, dan keindahan yang unlimited.
Tuhan menciptakan dua buah hukum: pertama hukum alam (berlaku universal), dan yang kedua adalah hukum “syari’at” atau hukum “cara” (berlaku ‘segmented’).. Dan tiap2 cara mengandung metode2 tertentu..
Analogi sederhana: kita tujuannya mau sehat.. Maka caranya akan ada banyak.. Misal: lewat olahraga (syari’at), ada banyak ragamnya: ada basket, badminton, sepakbola, pingpong, dsb.. Tiap2 olahraga ada metode ataupun sistem yang khas dan bisa nggak ada di jenis olahraga yang lain.. Dalam badminton ada smash, lob, dropshot, dsb.. Di basket kan nggak ada.. Adanya dribble, pass, fast break, lay up, dsb.. Di sepakbola, jelas metodenya lain lagi..
Tujuannya sama = mau sehat, tapi cara atau jalan dan metodenya beda.. Lucu kalo ada pemain badminton mencela pemain basket, dengan alasan badminton pasti lebih baik dari basket untuk menuju sehat.. Banyak yang masih sibuk meributkan cara2 dan metode, ya nggak heran akhirnya jadi perdebatan tanpa ujung..


