me|write, spiritual
Leave a Comment

neraka-surga..

Belum lama sempat nulis soal pemaknaan dunia-akhirat versi ketiga.. Dunia maknanya badan/lahir (fisik atau material), akhirat adalah batin (non-fisik/non-materi atau mental)..

Kalo di akhirat versi kesatu (sekuensial), nanti bakalan ada dua tempat dimana manusia akan tinggal: neraka dan surga.. Lantas di mana posisi neraka dan surga ini dalam perspektif dunia-akhirat versi ketiga yang lebih berorientasi ke masa sekarang ??

Ada ulama2 (seperti Buya Hamka) yang berpendapat, bahwa neraka dan surga sebenarnya ada jug di saat manusia menjalani hidup sekarang ini.. Neraka terbuat dari api yang rasanya panas atau nggak nyaman, bahkan menyakitkan.. Karena akhirat dimaknakan sebagai batin, mental, ataupun kondisi hati, jadi ingat2 saja apa yang membuat batin atau hati kita jadi terasa “panas” atau nggak nyaman..

Bisa benci, dendam, iri dengki, kemarahan, keserakahan dan semacamnya.. Ya bayangin aja kalo seseorang menyimpan hal-hal tersebut di batinnya dalam waktu lama.. Dirinya sendiri bisa ‘rusak’.. Banyak nyinyir dalam keseharian, terus2an “mikirin” orang yang dibencinya.. Akhirnya hidup jadi banyak ngeluh, nyari2 kesalahan, mencari2 hal2 yang nggak penting, dan dampaknya produktivitas menjadi melempem..

Vibrasi jadi sering berada di level rendah.. Hidup jadi kayak ada di ‘neraka’.. Nggak damai, nggak menikmati, nggak bisa liat yang indah2 di hadapannya, bahkan kalo serakah, cara2 nggak halal pun ditempuhnya.. Kondisi ‘surga’ ya sebaliknya: batin/hati tentram, damai, penuh cinta bahagia, dan sejenisnya.. Vibrasi jadi sering tinggi, dan kondisi nyaman begini yang membuat badan fisik (dunia) jadi lebih fit dan otak jadi nggak mikir yang aneh2..

Kalo batin/mentalnya sakit, seseorang bisa nggak enak makan meski dikelilingi harta dan ketenaran (misal: lagi patah hati).. Bahkan bisa bunuh diri di tengah2 keberlimpahan materi.. Selama batin/mentalnya sehat, seseorang bisa enak makan tidur meski dengan kondisi “seadanya”.. Akhirat (batinnya) tetap dijaga, meski dunia (fisik/materi-nya) tidak “se-cemerlang” artis, atau bahkan mungkin berkekurangan.. Tapi yang jelas batin sehat bisa jadi modal awal untuk mengubah nasib.. Kondisi batin-nya tidak menjadi ‘neraka’ bagi dirinya..

Batin oke, hati tetep tenang, akal jadi jernih, fisiknya (dunianya) bisa bertahan, lantas tergerak mencari pembelajaran dan solusi masalah.. Kalo batin runtuh jadi neraka, berpikir negatif tiada harap, akan lebih susah memperbaikinya.. Di Qur’an juga disebutkan utamakan akhirat (batin/non-materi), namun jangan lupakan dunia (fisik/materi)..

Masalahnya, si batin (akhirat) ini berkorelasi dengan dimensi spiritual seseorang.. Dan sifatnya sangat personal.. Laku spiritual atau penenangan batin bagi seseorang, belum tentu cocok bagi yang lain.. Jadi, mesti dialami dan dicari sendiri.. Neraka dan surga tidak mungkin ber-irisan, tapi kalo dialami bergantian masih mungkin..

Leave a comment