me|write, spiritual
Leave a Comment

caranya itu loh..

Mereka yang expert di bidang tertentu memiliki mental model yang lebih oke dibanding orang rata2.. Pertanyaanya, gimana seseorang jadi bisa punya mental model yang bagus ??.. Jawaban paling ‘enak’ ya karena mereka punya bakat..

Untuk mengeksplor bakat ini, sejumlah peneliti kepo, bisa nggak sih mereka melatih orang normal biasa jadi bisa punya skill superhuman ??.. Di sekitar lingkungan gw, ada anak2 yang gampang menghafal, dan ada yang nggak.. Ada yang bilang itu karena si jago ngafal punya “bakat menghafal”..

Apa iya ada bakat menghafal ??.. Studi yang dilakukan para peneliti di atas berkaitan dengan aktivitas ‘memorize’ ini..

Coba liat deretan angkat ini: “38958502582502590501501851009944451510510581195815098195081 095810598109581293567”

Totalnya semua ada 80 digit deretan angka.. Coba deh di-hafalin.. Santuy aja, nggak perlu buru2, bisa dicoba terus sampe puas.. (^_^!).. Berapa digit bisa “nyangkut” di otak ??.. Lima, enam digit ??.. Atau lebih..??

Para peneliti menemukan rata2 mahasiswa mampu mengingat tujuh digit.. Sebetulnya ada suatu cara atau teknik mengingat yang sudah ‘proven’, dan teknik ini kemudian diajarkan kepada mahasiswa2 tersebut.. Setelah diajarkan, ternyata mereka menjadi mampu mengingat lebih dari 80 digit !!.

Kesimpulan peneliti: yang terpenting adalah cara latihan, bukan bakat, dan juga bukan 10 ribu jam.. “it was THE WAY in which they were trained.”

Ericsson selaku periset kaidah 10 ribu jam meneliti para jagoan pemain biola.. Dia menemukan, secara kasar, jumlah jam latihan per-minggu mereka sama.. Namun pemain biola yang ‘The Best’ menghabiskan lebih banyak waktunya dalam ‘purposeful practice’.. Latihan menambah penguasaan skill2 baru yang kecil, dan dengan tujuan yang jelas..

Saat satu skill baru yang kecil tersebut sudah dikuasai, maka ia akan lanjut ke skill kecil baru yang lebih sulit.. Hasil yang sama juga ditemukan diantara para pemain catur.. Purposeful practice-lah yang menentukan mereka bisa menjadi pecatur terbaik atau tidak..

Non-purposeful practice, yang hanya mengulang apa2 yang sudah kita ketahui hanya memperkuat mental model yang sudah ‘jadi’.. Sementara purposeful practice berpotensi membuat mental model baru yang ujung2nya bisa meningkatkan kemampuan..

Gw mencoba iseng ‘mencomot’ konsep ini dan meletakkannya ke dalam konsep seseorang beragama.. Mencoba mempertanyakan: “Gimana kalo ternyata cara kita beragama selama ini hanya pengulangan ritual belaka ??”..

Nggak ada mental model baru yang terbentuk, khususnya pada aspek spiritualitas dan pemaknaan dari ritualitas secara individu.. Mangkanya meski ritual2 dilakukan ribuan jam, banyak juga yang berbuat culas, berbuat curang oke, korup ya hayok..

Di masa lalu, agama berhasil membuat orang2nya menjadi ‘besar’ dan menjadi mercusuar ilmu pengetahuan.. Di masa kini, kebanyakan dari kita malah berulang kali membanggakan kebesaran masa lalu.. Tanpa mau mencari tau, kenapa koq bisa begitu..

Leave a comment