me|write, think sotoy
Comments 3

baik buruk di akal..

Untitled-1Suatu ketika, seorang guru Zen bersama muridnya sedang dalam perjalanan pulang ke kuil mereka.. Rutenya bakalan melewati sebuah sungai deras, tanpa jembatan.. Kalo pingin menyeberang, cuman ada seutas tali yang diikatkan ke pohon, dari sisi sungai yang satu, ke pohon di sisi seberangnya.. Jadi harus nyemplung, nahan arus sambil pegangan tali, terus pelan2 deh nyeberangnya..

Saat sampai di sungai tersebut, ternyata ada gadis berbadan mungil.. Wajahnya bingung, kelihatan pengen menyeberang, namun ragu melihat derasnya air sungai dan hanya ada seutas tali..

Guru Zen bertanya pada si gadis, dan benar saja, dia memang ingin menyeberang, namun takut terbawa arus karena mungil.. Lantas guru Zen menawarkan pertolongan dengan menggendong si gadis sambil menyeberang sungai.. Sementara si murid (yang sudah cukup banyak bawa banyak barang di punggungnya) kaget.. “Begimana mungkin guru mau menggendong gadis itu ?!?.. Kan menyentuh wanita itu dilarang.. Begitu pikirnya..”

Lantas mereka pun menyeberang.. Selama penyeberangan, pikiran si murid pun tetap “bergelut” soal kontradiksi perbuatan gurunya.. Sampai di seberang, gadis itu pun turun dari gendongan, mengucapkan terima kasih, kemudian pergi ke arah yang lain..

Perjalanan ke kuil masih memakan waktu beberapa jam lagi, dan selama itu, si murid terus saja memikirkan perisitiwa guru & gadis.. Sampai di gerbang kuil, si murid memberanikan diri bertanya.. “Guru, anuu, gadis yang tadi ituu…”.. Belum kelar pertanyaan, gurunya langsung bertanya: “Gadis yang mana ??..”

Guru pun lanjut berkata: “Aku hanya menolongnya menyeberang.. Dan gadis itu sudah kutinggalkan sekian jam yang lalu ditepi sungai, mengapa engkau masih membawanya di dalam hati dan pikiranmu ?”

Seringkali kita terperangkap oleh atensi atau persepsi yang salah.. Salah merespon, atau merespon berlebihan apa yang ada diluar diri ini.. Padahal semuanya tergantung pada “manajemen akal” kita.. Saat pikiran & hati seorang “penampil” cukup kuat, penonton nggak akan bisa membuatnya grogi, (apalagi patung..).. Bagi mereka yang benar2 beriman, uang suap / hasil tipu2 bertumpuk2 di hadapannya pun bisa dianggap tumpukan kertas nggak penting..

Seperti kata Paul G. Stoltz (2000) dalam “Adversity Quotient”: Peristiwa itu nggak penting, yang paling penting adalah respon seseorang akan peristiwa tersebut.. Dan menurut gw, yang paling mendasar dalam menentukan respon adalah AKAL..

Buya Hamka dalam bukunya “Tasawuf Modern” menuliskan:
“Segala sesuatu di dalam alam ini, baik buruknya bukanlah pada zat sesuatu itu, tetapi pada penghargaan kehendak kita atasnya, menurut tinggi rendahnya akal kita.. Apalah gunanya pena emas bagi orang yang tak pandai menulis ??.. Apalah harga intan bagi orang gila ??.. Sebab itulah kita manusia disuruh membersihkan akal budi, supaya dengan dia kita mencapai bahagia yang sejati..”

Advertisements

3 Comments

    • Yes.. kalo di bukunya dibilang, respon itu 90%, peristiwa 10%.. Orang2 yang berhasil atau sukses, pastilah selalu mereka yang pintar merespon peristiwa2, termasuk merespon masalah2 hidup mereka dengan baik..

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s