All posts filed under: think sotoy

gen mutan..

Banyak pakar menyetujui, bahwa lukisan yang berada pada tembok gua2 di zaman pra-sejarah adalah bentuk kreativitas manusia.. Pendek kata, banyak yang setuju kalo seni adalah bentuk kreativitas manusia yang tertua.. Pertanyaan para ilmuwan kemudian berlanjut.. Darimana si “cave-man” belajar gambar ??.. Koq tauk2 bisa gambar ?? Mosok panggil guru privat ?? Lah gurunya dulu skill gambarnya darimana ??.. Nonton tutorial di youtube ?!?.. Kan jelas nggak mungkin.. (^_^!) Pertanyaan kemudian mengkerucut menjadi: bagaimana awal munculnya kreativitas manusia ?? Gw suka sama teorinya Klein dan Edgar (2002), dalam bukunya “The Dawn of Human Culture” yang menyatakan bahwa kreativitas di masa awalnya dapat terjadi karena mutasi genetik.. Mutasi genetik yang terjadi sekitar 20 ribu sampai 50 ribu tahun yang lalu itulah yang ‘men-trigger’ terciptanya lukisan di gua2 itu.. Kenapa suka ? Karena cukup ‘make sense’ aja.. Dan dari baca2, mutasi genetik bisa disebabkan oleh lingkungan, ataupun non-lingkungan seperti ‘ujug2’ atau spontan aja gitu, atau bisa juga karena terjadi kesalahan dalam replikasi DNA.. Jadi, mungkin aja ‘sense of art’ atau ‘sense of creating’ si manusia pra-sejarah tersebut muncul …

archetype lokal..

Di dalam diri manusia, ada ‘pengetahuan bawaan’ yang diturunkan dari nenek moyangnya, dan mempengaruhi manusia berperilaku serta bermasyarakat.. Cal Gustav Jung menyebut hal ini sebagai Archetype.. Archetype merupakan sebuah pola tertentu yang menjadi bagian dari ‘collective unconscious’ manusia.. Karena adanya di dimensi “ketidak sadaran”, jadinya archetype ini sulit untuk dilihat secara kasat mata.. Apalagi bumi ini luas, jadi nenek moyangnya pun macem2, maka Archetype-nya pun bisa berbeda2.. Archetype sulit dilihat secara individual, karena merupakan ‘ketidaksadaran bersama’.. Ia akan kelihatan bila sudah mewujud dalam perilaku masyarakat; bisa melalui mitos, fenomena, seni, agama, dan sejarah.. Ia merupakan potensi terpendam, dan kemudian bisa teraktualisasikan melalui budaya.. Dr. Muhammad Faisal (2019), dalam bukunya “Generasi Kembali ke Akar” menyebutkan tradisi mudik lebaran merupakan contoh Archetype Indonesia.. Rela keluar sejumlah duit, mau bersusah payah menempuh padat dan macet dengan resiko kecelakaan demi melihat kampung halaman, kesemuanya merupakan pengetahuan yang turun temurun.. Beliau juga mengambil contoh definisi ‘pemuda keren’ versi lokal sebagai pola Archetype.. Mulai dari film “Darah Muda” tahun 1977 si Bang Roma, terus si Boy dari Catatan si Boy yang …

neo-alpha..

Pas liat2 fesbuk, eh lewat foto antrean beras jadul berdampingan dengan foto antrean beras sekarang.. Jadi inget ungkapan “History repeat itself”, sejarah berulang.. Waktu pengulangannya tentu tidak pendek, tapi bisa puluhan tahun.. Jadi inget juga teori generasinya Dr. Muhammad Faisal di buku “Generasi Phi” (2017).. Yang membagi generasi Indonesia berdasarkan masa remaja dan dewasa muda-nya: Alpha, Beta, Theta, dan Phi.. Generasi2 juga berulang, setelah Phi, akan balik lagi ke Alpha.. Menurut beliau, saat ini generasi Alpha baru (Neo-Alpha) sedang memasuki masa remaja dan dewasa muda.. Dari tahun kelahirannya, generasi ini lahir sekitar tahun 2005 ke atas.. Dan ciri pola dasar karakternya katanya sih akan sama dengan generasi Alpha awal (Founding Fathers) bangsa ini, seperti Soekarno, Tan Malaka, Buya Hamka, dsb.. Cara pandang generasi Alpha awal cenderung ideologis, religius, kedaerahan, nasionalis dan komunal.. Tantangan zaman yang mereka hadapi: kolonialisme dan mempersatukan bangsa.. Mungkin temen2 bisa juga mengamati, apakah mulai ada pemuda2 dengan karakteristik seperti ini ?.. Dan apakah iya kolonialisme dan persatuan bangsa kembali menjadi tantangan di negeri ini ??.. Kemarin sempet liat reels lagu mars …

naruto tapi bukan..

Beberapa minggu ke belakang, kalo nonton TV, sering liat iklan sebuah partai yang pas endingya, pentolannya ngomong: “Inilah jalan ninjaku !!”.. (^o^!).. Euuh, rasa2nya gimanaa gitu.. Hehe.. Biasanya dalam membangun sebuah brand, ada asosiasi yang bisa ditarik dari item2 kampanye-nya.. Ini gw bertanya2, apa yang mau dihubungkan antara nih orang ataupun organisasinya dengan Naruto ?? Pas nonton debat cawapres terakhir juga begitu, ada cawapres yang pake (editan) jaketnya Naruto.. Harusnya ada benang merah yang bisa ditarik ke karakter Naruto.. Nah, itu apa ya ??.. Lagi2 gw nggak dapet.. Yang bisa gw hubungkan itu paling sama2 anak petinggi desa.. Tapi jauh beda juga.. Naruto kan baru tau kalo dia ternyata anak petinggi desa saat melawan musuh yang sangat “berat” dan skill-nya mendekati puncak.. Jauuuh sebelum2nya, Naruto mati2an merangkak dari bawah, kerja keras, belajar dan bertarung berkali2 bertaruh nyawa.. Dia bisa jadi petinggi desa (Hokage) pun, tentu karena kemampuan-nya yang sulit ditandingi.. Dibuktikan dengan prestasinya yang pernah menyelamatkan seluruh penduduk desa.. Bukan karena ortu dan pamannya.. Eh.. (^o^!).. Dari sedikit kisah tentang Naruto diatas, mana yang bisa …

analogi hidup..

Sejauh ini, ada beberapa analogi kehidupan yang gw tau.. Yang pertama: hidup adalah perlombaan atau pertandingan.. Hidup ibarat track balap lari atau arena tanding.. Jadinya, hidup penuh dengan persaingan, adu cepat, adu sukses, atau adu-adu yang lain.. Yang kedua: hidup adalah perjalanan atau sekedar mampir lewat saja.. Ini sering ditemukan dalam perspektif agama.. Ya namanya perjalanan, bisa santai, bisa menikmati apapun dalam perjalanan.. Tapi ya gitu, ‘sense of competitiveness’ jadi kurang terbangun.. Akibatnya, jadi nggak ada suatu impian / goal yang harus dikejar.. Hidup seadanya pun tak apa.. Yang ketiga gw dapet dari konsep psikologi Adler: hidup adalah tarian kontribusi.. Hidup ya ‘menari’ terus saja, masing2 orang cukup memperhatikan panggungnya masing2, tidak perlu pusing memikirkan panggung orang lain.. Cukup menari dengan bahagia menebar kontribusi / manfaat.. Dan karena tarian, pastilah bergerak (tidak ada tarian yang diam), nanti tauk2 akan sampai di tempat2 yang nggak terduga.. Pilih yang mana ?? Atau bisa juga di-‘mix and match’.. Kalau seorang atlit, pilihan pertama jelas lebih cocok.. Karena kompetisi memang sudah menjadi inti dari profesinya, dan menjadi juara adalah …