Bagi yang muslim, pasti nggak asing dengan kalimat “Habluminallah dan Hablumminannas”, atau hubungan dengan Alloh dan hubungan antar manusia.. Dari dulu gw berpikir kalo konsep ini divisualkan, jadinya ada satu garis vertikal, yang ‘berdiri’ di tengah2 satu garis horizontal..
Tapi belakangan ini dapet perspektif yang lain.. Visualisasi seperti itu seakan masih belum komprehensif.. Seandainya kita adalah sebuah titik di dalam garis tersebut.. Saat kita bergerak horizontal ke arah kiri dan kanan, garis vertikal (Tuhan)nya jadi tidak bisa terbawa..
Seakan2 jadinya saat kita melakukan hubungan horizontal antar manusia, sangat mungkin untuk tidak ‘membawa’ Tuhan.. Dan pada kenyataannya ya ini kejadian.. Pedagang yang curang, pejabat yang korupsi, atau sejenisnya, relasi dan koneksi horizontal-nya bisa jadi banyak dan luas.. Namun karena nggak bawa2 ‘garis vertikal’, kemungkaran bisa terjadi, dan berdampak merugikan..
Juga sebaliknya, saat titik kita bergerak vertikal ke atas dan ke bawah, garis horizontalnya pun tidak terbawa ke atas / bawah.. Ini seakan-akan saat kita menjalin hubungan dengan Alloh, nggak perlu ‘membawa2’ manusia lain, jadi kayak ibadah individualis yang asyik sendiri.. Mangkanya kan ada orang yang ibadah ritualnya oke, tapi masih tidak peduli dengan kontribusi manfaat untuk alam sekitarnya..
So, berkat belajar sono sini, dapet deh konsep visual baru untuk Habluminallah dan Hablumminannas.. Bentuknya adalah segitiga sama kaki.. Ujung sudut atas itu Tuhan, ujung sudut kiri manusia, dan ujung sudut kanan itu alam semesta.. Kenapa alam ??.. Karena manusia tidak bisa hidup tanpa alam ini..
Dengan konsep ini pada dasarnya: manusia, Tuhan, dan alam selalu terhubung.. Seseorang nggak akan bisa melakukan hubungan horizontal antar manusia atau dengan alam tanpa membawa Tuhannya.. Karena Tuhan Maha mengetahui dan meliputi segala sesuatu, serta ke manapun ia menghadap, ada wajah Tuhan di situ..
Mangkanya, seseorang yang sudah mencapai level spiritual, tidak mungkin egois atau mementingkan dirinya sendiri.. Spiritual ada pada tatanan rohani, dimana ruh ataupun di level atomic kita semua adalah satu.. Perhatikan saja, spiritualis sejati perilakunya cukup erat dengan kepentingan banyak orang..
Demikian pula saat seseorang melakukan hubungan dengan Tuhannya, alam sekitarnya pasti terbawa.. Ketika seseorang beribadah ataupun berdo’a, ya pasti melakukannya di alam ini.. Adanya spiritual tanpa adanya alam semesta rasa2nya tidak akan mungkin..
Bila seseorang mampu membersihkan dirinya, kemudian menjalin hubungan baik dengan Tuhannya, lantas dibimbingNya, do’a2 dan tindakannya pasti untuk kebaikan seluruh makhluk di alam ini.. Ide2 kebaikan yang keluar dari dirinya akhirnya bukan hanya untuk kelompok A, B atau C, tapi untuk seluruh makhluk di alam ini.. Sebuah kebaikan universal..
Tapi ya gitu deh, untuk bisa sampe ke situ, perjuangannya beratnya minta ampun.. (^_^!)…
